Sosok laki-laki pertama saya kenal saat Allah, SWT menghembuskan
nyawa kehidupan dalam diri saya melalui rahim Mama. Buat kami anak-anaknya,
Papa itu “kamus berjalan”. Hal apa pun kami tanya, beliau selalu bisa menjawab.
Dari mulai pelajaran sekolah, pengetahuan umum, bahasa Inggris hingga tanda
plat kepolisian untuk daerah selain Jakarta.
Dari papa juga saya mulai mengenal indah nya seni musik, asyiknya mendengar
lagu melalui radio. Hal tersebut masih saya lakukan hingga sekarang dan
sepertinya will never get bored ^__^.
Dibalik kesabaran sifat Papa menghadapi kami keluarganya dan
jarangnya kalimat yang terucap dari bibir beliau, terdapat jelas disiplin dan
aturan keras ditetapkan oleh beliau. Papa memang jarang bicara sehingga saya
sebagai anaknya sering merasa segan dan ‘takut’ jika sudah melakukan kesalahan
karena melanggar aturannya. Diantara sekian peraturan yang dibuat Papa untuk
kami keluarganya, satu yang tertanam dalam “kalau mau keluar rumah kemana pun harus
bilang, walaupun hanya ke warung”. Saat itu saya kerap kali bertanya “kenapa
sih? lagian kan
cuma ke warung dekat rumah aja, tar juga balik”. Tak disangka kebiasaan
tersebut mau tak mau tertanam dalam diri saya, sehingga pada saat menikah dan
suami saya pernah ke warung tanpa informasi lebih dahulu, saya pun menanyakan
hal yang sama “kemana sih? kog ga bilang”. Jika kita lihat sisi positifnya,
dengan informasi lebih dahulu akan menghindari kebingungan dan mengurangi
kekhawatiran orang rumah. Tentunya hal ini bisa saya sadari setelah memasuki
tahap pasca remaja, hehheee
Tahun berlalu, seiring waktu, usia pun semakin menaklukan
Papa. Tak luput dari sakit yang harus diderita Papa. Serangan pertama stroke
terjadi pada saat Papa menjalankan ibadah haji. Saat itu saya masih kuliah
tingkat awal. Sebelah anggota tubuhnya tidak bisa digerakkan. Jalanpun susah,
sehingga beliau harus menggunakan kursi roda untuk melakukan semua ritual
ibadah haji dan juga menjalankan terapi di sana. Alhamdulilah saat pulang ke Indonesia, sudah
lebih membaik walaupun tetap menggunakan tongkat untuk sekedar berjaga.
Waktu kembali berlalu, ternyata ganasnya diabetes semakin
menggerogoti tubuh Papa. Agak bandel juga sih Papa kalau dilarang, mungkin
karena beliau merasa tidak ada yang harus dikhawatirkan, sehingga tak terasa
serangan stroke kembali terjadi. Entah sudah berapa kali serangan terjadi. Efek
dari setiap serangan pastinya membuat tubuh Papa yang kerap berisi, tegap dan
ganteng, menjadi semakin lemah dan lemah. Berat badan pun menurun. Satu lagi
beliau pun semakin menjadi diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Terakhir
beliau bicara adalah pada saat akad nikah kakak saya tahun 2005. Setelah itu
diam tak bersuara, sampai sekarang. Beliau hanya tersenyum jika ada yang
mengajak bicara.
Saat ini sosok tua tersebut hanya bisa tergolek lemah tak
berdaya di tempat tidur. Iya, saat ini Papa sudah tidak bisa duduk sama sekali.
Mandi dan semua aktivitas dibantu dan dilakukan Mama di tempat tidur. Bicara
tetap tidak dilakukan beliau, berarti sudah hampir 7 tahun beliau diam,
sehingga saya pun hampir lupa seperti apa suara Papa.
Hingga pagi ini, amazing moment terjadi pada diri saya.
Seperti biasa sehabis sahur dan sholat subuh, saya pun tidur lagi sehingga ga
ngantuk nanti di kantor. Saat itu saya bermimpi. Dalam mimpi jelas sekali
terasa kebenarannya. Saat itu ada saya, Mama dan Papa. Lokasi kejadian di kamar
papa. Seperti biasa mama membersihkan papa dan saat itu Papa bisa bergerak
sendiri untuk merubah posisinya tidurnya tanpa dibantu Mama. Saya kaget dan
bilang “Ma, perhatiin gak tuh, Papa bangun sendiri”. Mama diam aja dan seperti
tidak kaget akan hal itu. Agak heran juga saya (hahaha, namanya juga mimpi
yaaa). Posisi saya saat itu di pintu kamar. Tidak berapa lama saya mendengar
Papa memanggil lirih nama saya “Shin”. Aaahhhh terdengar jelas sekali suara
beliau, seakan nyata. Tak tertahan lagi saya pun menangis dalam mimpi tersebut.
Saya dekati Papa, saya minta maafkepada
beliau karena selama ini saya merasa terlalu banyak beradu argumen melawan
beliau dan Papa pun menjawab sambil tersenyum “Ga apa-apa”. Setelah itu
perlahan mimpi menghilang dan saya tersadar. Namun masih tetap menangis, sampai
saat saya mengetik ini pun masih menangis, hehehehe
Terima kasih ya Allah, Engkau sudah mengingatkan saya
kembali akan suara Papa pagi ini, walaupun masih sebatas di dalam mimpi. Mimpi
yang seakan nyata, seakan benar terjadi. Seperti doa dan harapan Mama, juga
kami semua, semoga mimpi itu bukan pertanda firasat tak baik. Semoga mimpi
tersebut merupakan tanda bahwa Papa akan kembali sehat, akan kembali normal dan
tentunya kembali bersuara. Suara yang telah lama kami nantikan, amiin.
Sekali lagi, maafkan saya Papa, masih belum bisa
membahagiakan Papa dan Mama hingga saat ini….
Lagu berikut selalunya akan menjadi favorit saya
Yes, if -only- I could get
another chance
another walk
another dance with him
I’d play a song that would never ever end
How I’d love, love, love
To dance with my father again
First of all, I would like to say "how are you today", it is nice I finally have a chance to know you better.
Aku dengar nama kamu pertama kali dari "33"..saat itu dia menulis sepucuk surat untuk kamu, masih ingatkah? :)
Senangnya, mulai saat ini semua tugas 33 secara resmi dialihkan ke aku. Sejak ini, kamu dan aku resmi bersahabat dekat ya. Aku akan berusaha untuk selalu menemani kamu. Aku akan berusaha untuk selalu membimbing kamu dalam menghadapi lembaran baru. Lembaran yang boleh dikatakan masih kosong dan semoga cerita yang akan kita ukir nanti didalamnya berisi tentang cerita-cerita bahagia, canda tawa, kekompakan dan kekuatan kita dalam mengisi hari-hari kamu dalam suka dan duka, amiiiin.
Alhamdulilah juga, awal pertemuan kita berlangsung dalam bulan Ramadhan. Bulan yang bagi semua muslim adalah bulan penuh barokah, bulan penuh ampunan dan semoga semua doa di ijabah Allah SWT, amiin...amiiin..ya robbal alamin...
Shien,
Di awal lembaran ini, biarkan aku sedikit menitipkan harapan dan doa untuk kamu dan keluarga kecilmu. Aku tahu sudah banyak waktu yang terlalui oleh kamu. Sudah banyak peristiwa yang kamu alami selama ini. Penuh dengan kebahagiaan, namun tak luput juga dari ujian dan cobaan. Tidak apa, jikalau kita lihat kembali, semua ujian dan cobaan itu hanya merupakan 'jalan' Shien. Jalan agar kamu bisa berkaca dan melihat bahwa "you are a strong woman, Shien". Kamu tidak selemah seperti yang sering kamu bayangkan, karena toh pada akhirnya semua peristiwa pahit, getir dan sedih dapat kamu lewati dengan baik. So keep on believe in your strength ya ^__^.
Akan tetapi jangan lah hal tersebut kamu jadikan sebagai sesuatu yang bisa kamu sombongkan. Karena masih banyak kekurangan yang pastinya ada pada dirimu. Semakin banyak Pe Er yang harus kamu kerjakan. Tetaplah berusaha yang terbaik untuk anak, suami, keluarga, sahabat dan semua orang yang mengasihimu.
Akhir kata, Happy Birthday dear...Selamat Ulang Tahun ya Shien...May start this day, your life is full of Happiness..no more fears...no more tears...Amiiin ya Rabbal Alamin ^___^
Minggu pagi setelah menyelesaikan semua tugas rutin sebagai ibu dari satu anak laki-laki, tergerak hati saya untuk menghidupkan lappy dan mengecek email. Menunggu proses loading yang selalunya memang tidak secepat kereta express atau pun secepat jaringan di kantor, akhirnya window inbox pun terbuka. Total inbox mencapai angka empat puluh satu ribuan. Fiuuhh, angka yang sebenarnya ingin saya hilangi, namun hingga sekarang masih terus dalam proses pengurangan.
Mata saya tertuju pada salah satu email yang berjudul "Dear S****a". Double click tulisan tersebut, membaca satu per satu kalimat tertera di dalam nya, tak terasa tenggorokan saya mulai tercekat, sampai akhirnya bulir mengalir tak tertahankan. Email ucapan terima kasih dari salah satu sahabat saya. Sahabat tempat saya berbagi cerita, berbagi keadaan, berbagi rasa.
Terdapat kalimat yang berbunyi seperti ini
"Apakah ia hanya akan teringat saya saat ia ditolak oleh yang lain.
Tak ada akar rotan pun jadi".
Kalimat bermakna dalam, dan membuat saya mencoba membayangkan serta menempatkan diri dalam posisi tersebut.
Seperti pernah terungkap pada media ini sebelumnya, bahwa saya termasuk orang yang membutuhkan dukungan, membutuhkan tempat untuk berbagi jika rasanya dunia sedang menunjukkan keangkuhannya terhadap saya. Jika rasanya kerapuhan sedang merajai semua akal sehat dan bermain-main dengan indahnya di dalam benak hati. Hmm, mungkin untuk beberapa orang bisa menilai saya lemah, cengeng, karena selalu membutuhkan tempat untuk mengurangi sesak di dada. Selalu membutuhkan kata-kata penguat untuk di dengar di telinga. Tidak apa, semua boleh berpendapat. Semua berhak untuk berkata seperti itu. Saya memang tidak sekuat srikandi dalam cerita pewayangan. Saya memang bukan wanita yang bisa tersenyum kala hati menangis. Tapi saya akan terus berusaha untuk dapat menjadi diri saya sendiri.
Berdasarkan hal itu, maka saya akan sangat berusaha untuk bisa melakukan hal yang sama. Jika ada teman, sahabat atau mungkin orang yang baru saya kenal dan mereka memulai percakapan secara baik hingga akhirnya mereka ingin sekedar share part of their life, pastinya saya akan sangat welcome. Berusaha untuk mendengarkan, sekedar memberi opini, adakalanya secara tidak langsung memberikan jalan jika memang hal tersebut tidak dianggap suatu campur tangan. Berusaha untuk selalu menjadikan "rahasia" mereka sebagai bagian dari "rahasia" saya sendiri.
Bukan berarti saya pamrih dan berkata bahwa saya adalah sosok yang hebat, sempurna, perfect, dewi. Tidak, tidak sama sekali. Jauh sekali dari gambaran tersebut. Saya hanya tidak ingin mereka sedih dan mempunyai pemikiran bahwa saya hanya membutuhkan mereka disaat saya sedang kecewa, disaat saya ingin mendapat dukungan, saat saya ingin disayang-sayang. Dan setelah saya menerima itu semua, saya pergi menghilang, meninggalkan mereka semua...untuk kemudian -mungkin- kembali lagi dengan pola sama.
Saya tidak ingin seperti itu, karena saya memahami betul bagaimana kecewanya berada dalam posisi seperti itu. Dan sebagai teman, sahabat ataupun orang terdekat, hendaknya selalu bisa merasakan. Hendaknya selalu mengerti, bahwa apapun yang tidak kita inginkan terjadi kepada diri kita, janganlah kita berbuat atau bahkan berpikir untuk melakukan hal tersebut terhadap orang lain.
Entah benar adanya atau tidak, namun sering saya membaca, mendengar, menemukan kalimat yang berbunyi "Karma itu ada". Haruskah kita menyebarkan karma negatif, jika karma positif akan membawa kehidupan kita dan orang sekitar menjadi lebih baik, lebih bermakna.....lebih Bahagia.
..... You can count on me like 1 2 3, I'll be there
And I know when I need it I can count on you like 4 3 2, and you'll be there
Cause that's what friends are supposed to do
You suck
You said you could fix anything
Instead I'm f***ed
You made things even worse for me
If I had balls I'd tell you get away from me
Guess I'm not smart
I let you unnerve me
I let you control me
Afraid the truth would hurt me
When it's you that hurts me more
*Chorus
Get outta my mouth
Get outta my head
Get outta my mind
Stop puttin' words in my head
Get outta my mouth
You're nothing but trouble
Get outta my life
Get out of me
Out of me (out of me)
Out of me
Out of me lie
Lie lie lie lie
You're dumb
You think you've got the best of me
You think you've won
Misread my vulnerability
I've got your balls
Now get the hell away from me
I've learned your heart
Won't let you unnerve me
Won't let you control me
The truth will only free me
And your lies won't hurt no
No more
*Chorus
Lie lie
I've got (I've got)
Your balls (your balls)
Now get the hell away from me
I've learned your heart (your heart)
Won't let you unnerve me
Won't let you control me
The truth will only free me
And your lies won't hurt no
No more