Minggu pagi setelah menyelesaikan semua tugas rutin sebagai ibu dari satu anak laki-laki, tergerak hati saya untuk menghidupkan lappy dan mengecek email. Menunggu proses loading yang selalunya memang tidak secepat kereta express atau pun secepat jaringan di kantor, akhirnya window inbox pun terbuka. Total inbox mencapai angka empat puluh satu ribuan. Fiuuhh, angka yang sebenarnya ingin saya hilangi, namun hingga sekarang masih terus dalam proses pengurangan.
Mata saya tertuju pada salah satu email yang berjudul "Dear S****a". Double click tulisan tersebut, membaca satu per satu kalimat tertera di dalam nya, tak terasa tenggorokan saya mulai tercekat, sampai akhirnya bulir mengalir tak tertahankan. Email ucapan terima kasih dari salah satu sahabat saya. Sahabat tempat saya berbagi cerita, berbagi keadaan, berbagi rasa.
Terdapat kalimat yang berbunyi seperti ini
"Apakah ia hanya akan teringat saya saat ia ditolak oleh yang lain.
Tak ada akar rotan pun jadi".
Kalimat bermakna dalam, dan membuat saya mencoba membayangkan serta menempatkan diri dalam posisi tersebut.
Seperti pernah terungkap pada media ini sebelumnya, bahwa saya termasuk orang yang membutuhkan dukungan, membutuhkan tempat untuk berbagi jika rasanya dunia sedang menunjukkan keangkuhannya terhadap saya. Jika rasanya kerapuhan sedang merajai semua akal sehat dan bermain-main dengan indahnya di dalam benak hati. Hmm, mungkin untuk beberapa orang bisa menilai saya lemah, cengeng, karena selalu membutuhkan tempat untuk mengurangi sesak di dada. Selalu membutuhkan kata-kata penguat untuk di dengar di telinga. Tidak apa, semua boleh berpendapat. Semua berhak untuk berkata seperti itu. Saya memang tidak sekuat srikandi dalam cerita pewayangan. Saya memang bukan wanita yang bisa tersenyum kala hati menangis. Tapi saya akan terus berusaha untuk dapat menjadi diri saya sendiri.
Berdasarkan hal itu, maka saya akan sangat berusaha untuk bisa melakukan hal yang sama. Jika ada teman, sahabat atau mungkin orang yang baru saya kenal dan mereka memulai percakapan secara baik hingga akhirnya mereka ingin sekedar share part of their life, pastinya saya akan sangat welcome. Berusaha untuk mendengarkan, sekedar memberi opini, adakalanya secara tidak langsung memberikan jalan jika memang hal tersebut tidak dianggap suatu campur tangan. Berusaha untuk selalu menjadikan "rahasia" mereka sebagai bagian dari "rahasia" saya sendiri.
Bukan berarti saya pamrih dan berkata bahwa saya adalah sosok yang hebat, sempurna, perfect, dewi. Tidak, tidak sama sekali. Jauh sekali dari gambaran tersebut. Saya hanya tidak ingin mereka sedih dan mempunyai pemikiran bahwa saya hanya membutuhkan mereka disaat saya sedang kecewa, disaat saya ingin mendapat dukungan, saat saya ingin disayang-sayang. Dan setelah saya menerima itu semua, saya pergi menghilang, meninggalkan mereka semua...untuk kemudian -mungkin- kembali lagi dengan pola sama.
Saya tidak ingin seperti itu, karena saya memahami betul bagaimana kecewanya berada dalam posisi seperti itu. Dan sebagai teman, sahabat ataupun orang terdekat, hendaknya selalu bisa merasakan. Hendaknya selalu mengerti, bahwa apapun yang tidak kita inginkan terjadi kepada diri kita, janganlah kita berbuat atau bahkan berpikir untuk melakukan hal tersebut terhadap orang lain.
Entah benar adanya atau tidak, namun sering saya membaca, mendengar, menemukan kalimat yang berbunyi "Karma itu ada". Haruskah kita menyebarkan karma negatif, jika karma positif akan membawa kehidupan kita dan orang sekitar menjadi lebih baik, lebih bermakna.....lebih Bahagia.
.....
You can count on me like 1 2 3, I'll be there
And I know when I need it
I can count on you like 4 3 2, and you'll be there
Cause that's what friends are supposed to do
.....
You can count on me like 1 2 3, I'll be there
And I know when I need it
I can count on you like 4 3 2, and you'll be there
Cause that's what friends are supposed to do
***mgs***