Wednesday, July 25, 2012

Papa


Papa…

Sosok laki-laki pertama saya kenal saat Allah, SWT menghembuskan nyawa kehidupan dalam diri saya melalui rahim Mama. Buat kami anak-anaknya, Papa itu “kamus berjalan”. Hal apa pun kami tanya, beliau selalu bisa menjawab. Dari mulai pelajaran sekolah, pengetahuan umum, bahasa Inggris hingga tanda plat kepolisian untuk daerah selain Jakarta. Dari papa juga saya mulai mengenal indah nya seni musik, asyiknya mendengar lagu melalui radio. Hal tersebut masih saya lakukan hingga sekarang dan sepertinya will never get bored ^__^.

Dibalik kesabaran sifat Papa menghadapi kami keluarganya dan jarangnya kalimat yang terucap dari bibir beliau, terdapat jelas disiplin dan aturan keras ditetapkan oleh beliau. Papa memang jarang bicara sehingga saya sebagai anaknya sering merasa segan dan ‘takut’ jika sudah melakukan kesalahan karena melanggar aturannya. Diantara sekian peraturan yang dibuat Papa untuk kami keluarganya, satu yang tertanam dalam “kalau mau keluar rumah kemana pun harus bilang, walaupun hanya ke warung”. Saat itu saya kerap kali bertanya “kenapa sih? lagian kan cuma ke warung dekat rumah aja, tar juga balik”. Tak disangka kebiasaan tersebut mau tak mau tertanam dalam diri saya, sehingga pada saat menikah dan suami saya pernah ke warung tanpa informasi lebih dahulu, saya pun menanyakan hal yang sama “kemana sih? kog ga bilang”. Jika kita lihat sisi positifnya, dengan informasi lebih dahulu akan menghindari kebingungan dan mengurangi kekhawatiran orang rumah. Tentunya hal ini bisa saya sadari setelah memasuki tahap pasca remaja, hehheee

Peraturan lainnya adalah anak perempuannya tidak boleh keluar malam. Paling telat jam 9 malam udah pulang, kalau belum akan ditunggu di depan pintu rumah. Bahkan pernah di depan gang rumah, walaupun saat itu saya sudah bekerja. Saya mungkin termasuk anak yang bisa dibilang “rebel” dibanding kakak perempuan saya. Kakak perempuan saya memang anak rumahan walaupun dia termasuk yang tomboy dan senang akan olahraga lelaki. Mungkin karena hobi kakak saya adalah menonton film, jadi dia pastinya senang akan bioskop maupun televisi. Sedangkan saya senang juga film dan movie theather, akan tetapi for me music is the best. Itu sebabnya juga saya selalu penasaran dengan café, music club dan diskotik. Hahaha, mungkin terdengar nakal ya. Bukan karena saya ingin hal-hal yang aneh, ya seru aja kan pasti suasana disana, full stereo, dll. Biasanya remaja SMA sudah menginjakan kaki nya ke semua tempat itu. Sedangkan saya baru terealisasi saat sudah kerja dan hanya dapat dihitung oleh jari intensitasnya. Tidak apa lah, pastinya feeling orang tua selalu tepat. Mungkin saja jika saya mengunjungi tempat-tempat seperti itu pada saat remaja, jiwa saya masih labil dan tidak menutup kemungkinan saya akan mengalami hal yang tidak diinginkan. Terima kasih Papa, dibalik kerasnya Papa, selalu berusaha untuk melindungi anak-anaknya.

Tahun berlalu, seiring waktu, usia pun semakin menaklukan Papa. Tak luput dari sakit yang harus diderita Papa. Serangan pertama stroke terjadi pada saat Papa menjalankan ibadah haji. Saat itu saya masih kuliah tingkat awal. Sebelah anggota tubuhnya tidak bisa digerakkan. Jalanpun susah, sehingga beliau harus menggunakan kursi roda untuk melakukan semua ritual ibadah haji dan juga menjalankan terapi di sana. Alhamdulilah saat pulang ke Indonesia, sudah lebih membaik walaupun tetap menggunakan tongkat untuk sekedar berjaga.

Waktu kembali berlalu, ternyata ganasnya diabetes semakin menggerogoti tubuh Papa. Agak bandel juga sih Papa kalau dilarang, mungkin karena beliau merasa tidak ada yang harus dikhawatirkan, sehingga tak terasa serangan stroke kembali terjadi. Entah sudah berapa kali serangan terjadi. Efek dari setiap serangan pastinya membuat tubuh Papa yang kerap berisi, tegap dan ganteng, menjadi semakin lemah dan lemah. Berat badan pun menurun. Satu lagi beliau pun semakin menjadi diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Terakhir beliau bicara adalah pada saat akad nikah kakak saya tahun 2005. Setelah itu diam tak bersuara, sampai sekarang. Beliau hanya tersenyum jika ada yang mengajak bicara.

Saat ini sosok tua tersebut hanya bisa tergolek lemah tak berdaya di tempat tidur. Iya, saat ini Papa sudah tidak bisa duduk sama sekali. Mandi dan semua aktivitas dibantu dan dilakukan Mama di tempat tidur. Bicara tetap tidak dilakukan beliau, berarti sudah hampir 7 tahun beliau diam, sehingga saya pun hampir lupa seperti apa suara Papa.

Hingga pagi ini, amazing moment terjadi pada diri saya. Seperti biasa sehabis sahur dan sholat subuh, saya pun tidur lagi sehingga ga ngantuk nanti di kantor. Saat itu saya bermimpi. Dalam mimpi jelas sekali terasa kebenarannya. Saat itu ada saya, Mama dan Papa. Lokasi kejadian di kamar papa. Seperti biasa mama membersihkan papa dan saat itu Papa bisa bergerak sendiri untuk merubah posisinya tidurnya tanpa dibantu Mama. Saya kaget dan bilang “Ma, perhatiin gak tuh, Papa bangun sendiri”. Mama diam aja dan seperti tidak kaget akan hal itu. Agak heran juga saya (hahaha, namanya juga mimpi yaaa). Posisi saya saat itu di pintu kamar. Tidak berapa lama saya mendengar Papa memanggil lirih nama saya “Shin”. Aaahhhh terdengar jelas sekali suara beliau, seakan nyata. Tak tertahan lagi saya pun menangis dalam mimpi tersebut. Saya dekati Papa, saya minta maaf  kepada beliau karena selama ini saya merasa terlalu banyak beradu argumen melawan beliau dan Papa pun menjawab sambil tersenyum “Ga apa-apa”. Setelah itu perlahan mimpi menghilang dan saya tersadar. Namun masih tetap menangis, sampai saat saya mengetik ini pun masih menangis, hehehehe

Terima kasih ya Allah, Engkau sudah mengingatkan saya kembali akan suara Papa pagi ini, walaupun masih sebatas di dalam mimpi. Mimpi yang seakan nyata, seakan benar terjadi. Seperti doa dan harapan Mama, juga kami semua, semoga mimpi itu bukan pertanda firasat tak baik. Semoga mimpi tersebut merupakan tanda bahwa Papa akan kembali sehat, akan kembali normal dan tentunya kembali bersuara. Suara yang telah lama kami nantikan, amiin.

Sekali lagi, maafkan saya Papa, masih belum bisa membahagiakan Papa dan Mama hingga saat ini….

Lagu berikut selalunya akan menjadi favorit saya

 
Yes, if -only- I could get 
another chance
another walk
another dance with him
I’d play a song that would never ever end
How I’d love, love, love
To dance with my father again



***mgs***