Papa…
Sosok laki-laki pertama saya kenal saat Allah, SWT menghembuskan
nyawa kehidupan dalam diri saya melalui rahim Mama. Buat kami anak-anaknya,
Papa itu “kamus berjalan”. Hal apa pun kami tanya, beliau selalu bisa menjawab.
Dari mulai pelajaran sekolah, pengetahuan umum, bahasa Inggris hingga tanda
plat kepolisian untuk daerah selain Jakarta.
Dari papa juga saya mulai mengenal indah nya seni musik, asyiknya mendengar
lagu melalui radio. Hal tersebut masih saya lakukan hingga sekarang dan
sepertinya will never get bored ^__^.
Dibalik kesabaran sifat Papa menghadapi kami keluarganya dan
jarangnya kalimat yang terucap dari bibir beliau, terdapat jelas disiplin dan
aturan keras ditetapkan oleh beliau. Papa memang jarang bicara sehingga saya
sebagai anaknya sering merasa segan dan ‘takut’ jika sudah melakukan kesalahan
karena melanggar aturannya. Diantara sekian peraturan yang dibuat Papa untuk
kami keluarganya, satu yang tertanam dalam “kalau mau keluar rumah kemana pun harus
bilang, walaupun hanya ke warung”. Saat itu saya kerap kali bertanya “kenapa
sih? lagian kan
cuma ke warung dekat rumah aja, tar juga balik”. Tak disangka kebiasaan
tersebut mau tak mau tertanam dalam diri saya, sehingga pada saat menikah dan
suami saya pernah ke warung tanpa informasi lebih dahulu, saya pun menanyakan
hal yang sama “kemana sih? kog ga bilang”. Jika kita lihat sisi positifnya,
dengan informasi lebih dahulu akan menghindari kebingungan dan mengurangi
kekhawatiran orang rumah. Tentunya hal ini bisa saya sadari setelah memasuki
tahap pasca remaja, hehheee
Peraturan lainnya adalah anak perempuannya tidak boleh
keluar malam. Paling telat jam 9 malam udah pulang, kalau belum akan ditunggu
di depan pintu rumah. Bahkan pernah di depan gang rumah, walaupun saat itu saya
sudah bekerja. Saya mungkin termasuk anak yang bisa dibilang “rebel” dibanding
kakak perempuan saya. Kakak perempuan saya memang anak rumahan walaupun dia
termasuk yang tomboy dan senang akan olahraga lelaki. Mungkin karena hobi kakak
saya adalah menonton film, jadi dia pastinya senang akan bioskop maupun
televisi. Sedangkan saya senang juga film dan movie theather, akan tetapi for
me music is the best. Itu sebabnya juga saya selalu penasaran dengan café,
music club dan diskotik. Hahaha, mungkin terdengar nakal ya. Bukan karena saya
ingin hal-hal yang aneh, ya seru aja kan
pasti suasana disana, full stereo, dll. Biasanya remaja SMA sudah menginjakan kaki nya
ke semua tempat itu. Sedangkan saya baru terealisasi saat sudah kerja dan hanya
dapat dihitung oleh jari intensitasnya. Tidak apa lah, pastinya feeling orang
tua selalu tepat. Mungkin saja jika saya mengunjungi tempat-tempat seperti itu
pada saat remaja, jiwa saya masih labil dan tidak menutup kemungkinan saya akan
mengalami hal yang tidak diinginkan. Terima kasih Papa, dibalik kerasnya Papa,
selalu berusaha untuk melindungi anak-anaknya.
Tahun berlalu, seiring waktu, usia pun semakin menaklukan
Papa. Tak luput dari sakit yang harus diderita Papa. Serangan pertama stroke
terjadi pada saat Papa menjalankan ibadah haji. Saat itu saya masih kuliah
tingkat awal. Sebelah anggota tubuhnya tidak bisa digerakkan. Jalanpun susah,
sehingga beliau harus menggunakan kursi roda untuk melakukan semua ritual
ibadah haji dan juga menjalankan terapi di sana. Alhamdulilah saat pulang ke Indonesia, sudah
lebih membaik walaupun tetap menggunakan tongkat untuk sekedar berjaga.
Waktu kembali berlalu, ternyata ganasnya diabetes semakin
menggerogoti tubuh Papa. Agak bandel juga sih Papa kalau dilarang, mungkin
karena beliau merasa tidak ada yang harus dikhawatirkan, sehingga tak terasa
serangan stroke kembali terjadi. Entah sudah berapa kali serangan terjadi. Efek
dari setiap serangan pastinya membuat tubuh Papa yang kerap berisi, tegap dan
ganteng, menjadi semakin lemah dan lemah. Berat badan pun menurun. Satu lagi
beliau pun semakin menjadi diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Terakhir
beliau bicara adalah pada saat akad nikah kakak saya tahun 2005. Setelah itu
diam tak bersuara, sampai sekarang. Beliau hanya tersenyum jika ada yang
mengajak bicara.
Saat ini sosok tua tersebut hanya bisa tergolek lemah tak
berdaya di tempat tidur. Iya, saat ini Papa sudah tidak bisa duduk sama sekali.
Mandi dan semua aktivitas dibantu dan dilakukan Mama di tempat tidur. Bicara
tetap tidak dilakukan beliau, berarti sudah hampir 7 tahun beliau diam,
sehingga saya pun hampir lupa seperti apa suara Papa.
Hingga pagi ini, amazing moment terjadi pada diri saya.
Seperti biasa sehabis sahur dan sholat subuh, saya pun tidur lagi sehingga ga
ngantuk nanti di kantor. Saat itu saya bermimpi. Dalam mimpi jelas sekali
terasa kebenarannya. Saat itu ada saya, Mama dan Papa. Lokasi kejadian di kamar
papa. Seperti biasa mama membersihkan papa dan saat itu Papa bisa bergerak
sendiri untuk merubah posisinya tidurnya tanpa dibantu Mama. Saya kaget dan
bilang “Ma, perhatiin gak tuh, Papa bangun sendiri”. Mama diam aja dan seperti
tidak kaget akan hal itu. Agak heran juga saya (hahaha, namanya juga mimpi
yaaa). Posisi saya saat itu di pintu kamar. Tidak berapa lama saya mendengar
Papa memanggil lirih nama saya “Shin”. Aaahhhh terdengar jelas sekali suara
beliau, seakan nyata. Tak tertahan lagi saya pun menangis dalam mimpi tersebut.
Saya dekati Papa, saya minta maaf kepada
beliau karena selama ini saya merasa terlalu banyak beradu argumen melawan
beliau dan Papa pun menjawab sambil tersenyum “Ga apa-apa”. Setelah itu
perlahan mimpi menghilang dan saya tersadar. Namun masih tetap menangis, sampai
saat saya mengetik ini pun masih menangis, hehehehe
Terima kasih ya Allah, Engkau sudah mengingatkan saya
kembali akan suara Papa pagi ini, walaupun masih sebatas di dalam mimpi. Mimpi
yang seakan nyata, seakan benar terjadi. Seperti doa dan harapan Mama, juga
kami semua, semoga mimpi itu bukan pertanda firasat tak baik. Semoga mimpi
tersebut merupakan tanda bahwa Papa akan kembali sehat, akan kembali normal dan
tentunya kembali bersuara. Suara yang telah lama kami nantikan, amiin.
Sekali lagi, maafkan saya Papa, masih belum bisa
membahagiakan Papa dan Mama hingga saat ini….
Lagu berikut selalunya akan menjadi favorit saya
Yes, if -only- I could get
another chance
another walk
another dance with him
I’d play a song that would never ever end
How I’d love, love, love
To dance with my father again
I’d play a song that would never ever end
How I’d love, love, love
To dance with my father again
***mgs***