"Suami gw masa bilang gini : "Males ah kalau ke Jakartanya cuma buat ketemuan temen Bunda, abis temen Bunda seringnya telat terus sih datengnya, jadi jadwal balik kita juga mundur. Kita kan jauuuh Bun, mereka sih tinggal di Jakarta, jadi ga masalah kalau pulangnya malam".
******
"Lo kenapa sih telat banget datengnya? hampir 2 jam lebih eeuuy :("
"Iya, maaf. Sebenarnya gw udah ajak suami gw buat berangkat, cuma dia bilangnya 'iya bentar' gitu terus"
"Haa?? trus lo diem aja? ga berusaha lebih keras?"
"Gw takut, pernah waktu itu gw agak "cepet-cepetin" suami gw...eeeh dia marah karena merasa gw "buru-buruin". Setelah itu ga mau lagi gw maksa-maksa buat cepet".
******
Menilik percakapan diatas yang berasal dari dua orang sahabat berbeda, membuat saya terinspirasi untuk sejenak flashback, mengingat masa lebih dari enam tahun silam. Saat saya dan mereka masih berstatus single, saat para suami saat itu masih berstatus 'pacar'. Selepas kuliah kami memang terpisah satu sama lain sehubungan dengan lokasi tempat tinggal dan pekerjaan. Namun, selalu kami sempatkan mengatur waktu disela kesibukan untuk sesekali berkumpul, sekedar makan siang bersama dan berbincang-bincang di salah satu mall Jakarta.
Sebagaimana biasanya seorang laki-laki yang berstatus 'pacar', selalunya salah satu dari mereka dan saya juga akan diantar oleh sang pacar ke tempat yang telah kami sepakati. Walaupun biasanya hanya sebatas dropping dan nanti akan menjemput lagi setelah mendapat informasi kalau pertemuan telah selesai. Rasa-rasanya saat itu tidak pernah saya dengar ada cerita kalau sang pacar menolak mengantar ke tempat tujuan. Atau mungkin benar ya kalimat yang sering dijadikan perumpamaan "buat kamu sayang, kemana pun pasti aku anterin". Ada lagi yang lebih lebay "Hujan badai ku terjang, gunung ku daki, lautan ku sebrangi"..hahahaa...hanya ada di sinetron kali yaaa ^__^. Masa pacaran semua tampak indah deh. Pengorbanan dilakukan tanpa merasa berat. Dengan harapan akan berakhir di pelaminan dan live happily ever after.
But then, how's life after married will happen? Saya tidak bermaksud untuk mengambil bahasan yang terlalu berat dan dalam. Cukup yang ringan saja kali ini. Simple case to compare, ya situasi diatas. Setelah mengalami perjalanan rumah tangga selama 6 tahun (kenapa saya tahu persis 6 tahun, karena kita semua secara tidak sengaja menikah di tahun yang sama, 2006) dengan pastinya segala macam persoalan dihadapi bersama, kemanakah perginya rasa 'Aku siap menemani kamu pergi sayang' itu?. Telah terkikiskah rasa itu seiring dengan waktu?. Saya pun bukan orang yang terlalu muluk-muluk. Cuma saat ini satu terlintas dalam benak saya, haruskah seperti itu kalimat yang dipilih? atau haruskah tindakan seperti itu yang dilakukan?.
Bersyukur, walaupun saya dan suami juga bukan pasangan yang sempurna, pastinya banyak kekurangan dalam tindakan kami, namun rasanya hingga saat ini, belum pernah terlontar alasan atau tindakan seperti itu dari suami saya, jika saya hendak bertemu dengan para sahabat saya. Cuma memang beberapa kali coba disebutkan keinginan dia dengan kalimat "coba mama belajar setir mobil lagi, kan enak nanti bisa pergi kalau ada keperluan".
Atau kalimat tersebut secara halus berisikan kalau suami saya juga sudah males ya buat nganterin saya, hehehehe.....entahlah ^__^
***mgs***